Anak Tukang Bakso Terima Beasiswa OSC

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby
 
Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya bersama 12 Perguruan Tinggi Swasta lainnya memberikan beasiswa berupa DPP penuh dan SPP 7 semester melalui kompetisi beasiswa online atau Online Scholarship Competition (OSC) 2017. Beasiswa yang diberikan kepada 20 siswa terbaik, salah satunya Hesti Rochmat Wulandani dari SMA Negeri 1 Wonoayu, Sidoarjo. Hesti mengaku terbantu dengan adanya OSC ini. Putri dari tukang bakso ini mengaku beasiswa ini membangkitkan mimpinya yang sempat dia kubur. Di tahun 2016 dirinya dinyatakan lolos seleksi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang mewajibkan saya untuk membayar UKT dalam tenggang waktu. Dia menuturkan, “Beberapa hari setelah pengumuman, tempat usaha keluarga terpaksa digusur oleh pemerintah karena ada pelebaran. Uang yang semula akan jadi uang UKT awal terpaksa harus digunakan untuk memulai usaha baru.” Dengan keyakinan teguh di dalam hatinya bahwa sesuatu yang kita lepaskan dengan ikhlas akan digantikan dengan yang jauh lebih baik. “Beasiswa OSC inilah jawabannya,” terangnya.

Bagi Hesti, beasiswa ini sangat penting bagi dirinya. Karena OSC tidak hanya membangkitkan kembali mimpinya, tetapi juga membantu perekonomian keluarganya. Dia menuturkan bahwa pekerjaan sang Ayah dulunya adalah pengamen dari desa ke desa, kota ke kota. Hingga akhirnya berhijrah menjadi pedagang bakso dengan penghasilan yang tak menentu. Diakuinya, dari pengalaman hidup yang naik turun turut membentuk karakternya menjadi anak yang tidak mau sibuk mengurusi urusan orang lain dan mendengarkan cemoohan orang. Baginya status sosial hanyalah sebuah status belaka. “Tidak peduli dimanapun kita berada. Status sosial dan status perguruan tinggi bukan jaminan. Karena mutiara bila di pendam di kubangan lumpurpun akan tetap jadi mutuara.  Semua tergantung pribadi masing-masing yang menjalani,” katanya saat diwawancarai di Kantor Humas UNTAG Surabaya pada Kamis, (8/11).

Adapun pemilihan UNTAG Surabaya sebagai kampus impiannya untuk belajar bukan tanpa alasan. Hesti mengaku, UNTAG Surabaya merupakan satu-satunya kampus swasta yang logo posternya terpampang nyata di kamarnya sejak duduk masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Dia mengatakan, “Ternyata, UNTAG yang menjadi pelabuhan terakhir. Jadi sudah keinginan sejak lama. Semoga Allah ridho dengan yang saya terima kali ini.” Pun dia percaya bahwa setiap kampus memiliki sejarah, akan tetapi yang sekaligus mempunyai sejarah nasionalisme hanya UNTAG Surabaya. “Entah mengapa saya suka sekali dengan sebutan ‘Kampus Merah Putih’, karena saya termasuk anak yang suka sejarah. Dan menurut saya, kalau kamu suka jeli berenanglah di kubangan jeli. Begitu juga kalau kamu suka sejarah berenanglah di kubangan sejarah. Jangan setengah-setengah,” tukasnya. (um/aep)

www.untag-sby.ac.id

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima Beasiswa OSC, Esa Banting Setir dari Farmasi ke Psikologi