Anak Tukang Bakso Terima Beasiswa OSC
![]() |
| Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby |
Bagi Hesti, beasiswa ini sangat penting bagi dirinya. Karena OSC tidak hanya membangkitkan kembali mimpinya, tetapi juga membantu perekonomian keluarganya. Dia menuturkan bahwa pekerjaan sang Ayah dulunya adalah pengamen dari desa ke desa, kota ke kota. Hingga akhirnya berhijrah menjadi pedagang bakso dengan penghasilan yang tak menentu. Diakuinya, dari pengalaman hidup yang naik turun turut membentuk karakternya menjadi anak yang tidak mau sibuk mengurusi urusan orang lain dan mendengarkan cemoohan orang. Baginya status sosial hanyalah sebuah status belaka. “Tidak peduli dimanapun kita berada. Status sosial dan status perguruan tinggi bukan jaminan. Karena mutiara bila di pendam di kubangan lumpurpun akan tetap jadi mutuara. Semua tergantung pribadi masing-masing yang menjalani,” katanya saat diwawancarai di Kantor Humas UNTAG Surabaya pada Kamis, (8/11).
Adapun pemilihan UNTAG Surabaya sebagai kampus impiannya untuk belajar bukan tanpa alasan. Hesti mengaku, UNTAG Surabaya merupakan satu-satunya kampus swasta yang logo posternya terpampang nyata di kamarnya sejak duduk masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Dia mengatakan, “Ternyata, UNTAG yang menjadi pelabuhan terakhir. Jadi sudah keinginan sejak lama. Semoga Allah ridho dengan yang saya terima kali ini.” Pun dia percaya bahwa setiap kampus memiliki sejarah, akan tetapi yang sekaligus mempunyai sejarah nasionalisme hanya UNTAG Surabaya. “Entah mengapa saya suka sekali dengan sebutan ‘Kampus Merah Putih’, karena saya termasuk anak yang suka sejarah. Dan menurut saya, kalau kamu suka jeli berenanglah di kubangan jeli. Begitu juga kalau kamu suka sejarah berenanglah di kubangan sejarah. Jangan setengah-setengah,” tukasnya. (um/aep)
| www.untag-sby.ac.id |

Komentar
Posting Komentar